Skip to content
Words Without Borders is an inaugural Whiting Literary Magazine Prize winner!
from the August 2015 issue

Gendhis

Akulah gendhis, pelacur yang tadi malam meludahi wajah pak Lurah. Siapa bilang aku takut pak Lurah? Sebelum naik haji atau sesudahnya, aku tak takut padanya. Aku tak takut pada pangkat atau jabatan, karena semua itu tak tampak di mataku, juga tak membayang di wajah pak Lurah.

Dua bulan lalu pak Lurah mengatakan, sesudah naik haji takkan menyentuhku lagi. Sepulang dari tanah suci, temyata ia bahkan menjadi srigala yang bersembunyi di balik surbannya. Matanya geram melirikku saat berbelanja di kedai bu Minah.

Dengan membeberkan kondisi keluargaku yang katanya menyedihkan, karena adikku lumpuh dan satunya supernakal, sementara ibuku hanyalah seorang janda tanpa penghasilan', pak Lurah merongrong seluruh harga diriku, memperkosa dan merompaknya dengan mulut menyeringai, persis pegulat WCW saat melihat lawannya KO.

Akulah  Gendhis. Siapa  bilang tubuhku kerempeng seperti emping mlinjo? Kerempeng  pun harganya mahal karena aku tahu bahwa tubuhku punya kekuatan yang membuat seorang Kapten meraung-raung seperti bayi, ketika kutolak lamarannya untuk menjadikanku istri simpanan Bahwa aku memiliki bargaining position, akulah Gendhis, pelacur yang tak tamat SMP, tapi laki-laki botak yang katanya profesor atau doktor menyembah nyembah di betisku, dengan sejuta doa orang mabuk yang menyedihkan.

Akulah Gendhis. Kuludahi wajah pak Lurah yang menghinaku sebagai pelacur. Katanya profesiku menjijikkan. Padahal dialah yang menenggelamkanku ke dasar sungai menjijikkan ini. Dialah yang menjual kegadisanku seratus ribu pada Mama Viola yang wajahnya seperti kaktus dan senyumnya mengembang bagai kuntilanak kesiangan.

Ketika penghasilanku terus meninggi karena peminatku lebih banyak dan apa yang kumiliki adalah selera masa kini. Pak Lurah pula yang merampok uangku dengan dalih balas budi atas jasanya. Jasa? Balas budi? Puih! Kuludahi wajah buaya yang senantiasa ketagihan itu. Aku mau muntah dan sekali lagi kuludahi wajahnya yang mulai ketakutan karena kuancam dengan sebilah pisau lipat yang selalu kugenggam dua hari belakangan.

Akulah Gendhis. Sebuah helikopter turun di lapangan sepak bola, tepat.di depan rumahku. Tentu akulah tujuannya. Seorang Kapten yang meraung-raung di sebuah diskotek dua hari lalu, menjemputku dengan pesawat latih milik sebuah akademi yang disalahgunakan.

Sudah dua hari aku pulang kampung, mencuci wajah dengan kesegaran angin desa, Aku ingin membuang kemesuman kota yang katanya memabukkan. Perutku mual dan selalu ingin muntah mencium bau kota. Pesawat latih yang kecil itu telah mengusik kesibukan emakku dan orang-orang sekampung. Maka pak Lurah pun turun tangan.

Sejak peristiwa itu aku jadi terkenal di desa, bukan sebagai artis atau yang lain, tapi sebagai pelacur. Pelacur yang digandrungi seorang Kapten dan dijemput dengan pesawat terbang. Orang kampung yang tadinya menganggapku sebagai pekerja sukses pada sebuah salon di Surabaya, kini mata mereka terbelalak mendengar uraian pak Lurah.

Bahkan pak Lurah berpesan pada semua rakyatnya, warga desa kami, untuk tidak meniruku, meniru profesi yang kusandang, sebuah profesi terkutuk yang hanya dilakukan oleh perempuan terkutuk sepertiku.

"Nauzubillah!" seru pak Lurah.

Nauzubillah! seru orang kampung dengan serempak sambil meludahi wajahku, meludahi nasibku.

Emakku menjadi kurus dan sekarat dicambuk rasa malu. Dan malam malam kami menjadi mimpi buruk tak berkesudahan. Sementara siang kami adalah deretan penghinaan, makian dan sumpah serapah. Bahkan untuk sekedar berbelanja di kedai bu Minah, aku tak kuasa.

Dunia jadi menyempit. Tak ada kesunyian untuk kami gunakan sedikit merenung dan berpikir. Suara-suara itu teramat gaduh dan merontokkan atap rumah kami, membuat perut kami mulas dan tenggorokan kering. Aku bersimbah dalam lautan peluh ketakutan bimbang dan putus asa.

Serasa alunan jantungku mendadak tumbang ketika suara ibu mengetuk pintu di tengah malam yang mengerikan. Emakku tak kuasa untuk bangun dan berdiri. Ada sesuatu yang membanjiri pakaiannya. Mungkin air kencing. Mungkin juga peluh ketakutan yang menyirami seluruh nasibnya. Maka akulah satu-satunya yang beranjak menjawab tanya, siapa kau di sana?

"Pak Modin!"

Gelisahku naik menguasai keadaan.

"Ada apa?"

"Begini, Nak Gendhis. Saya mendapat perintah dari Pak Lurah, sebaiknya Nak Gendhis meninggalkan desa ini, secepatnya! Kalau bisa malam ini juga. Ini demi keamanan Nak Gendhis sendiri".

"Lho, alasannya?"

Kutatap tegas matanya. Pak Modin gelisah mencari-cari pada lantai tanah yang dipijaknya, seakan sebuah jawaban tersimpan dalam lubang-lubang lantai rumah kami. la menengok kian kemari, mengamati sandalnya, yang kiri, yang kanan. Entah matanya menangkap apa, ketika ia kembali mengangkat wajahnya, seakan sebuah jawaban telah mengilhaminya.

"E....anu. Pak lurah mengatakan bahwa.."

"Bahwa apa?" sergahku dikecamuk marah.

"E.... anu. Bahwa nak Gendhis.,..ee....ini kata pak Lurah lho." 

"lya,  Apa kata pak Lurah"

Pak Modin semakin kacau wajahnya. Kalau aku seorang photografer, maka inilah obyek paling artistik dari ekspresi terdalam manusia. Pak Modin yang kurus kerontang, sepanjang tahun digerogoti TBC hingga tubuhnya melenceng persis kumbang sakit perut dan ketika orang memanggilnya "modin manyang", terbuktiJah julukan itu, malarn ini.

Rasa takut yang menghantuiku tiba-tiba lenyap disedot perasaan geli campur bangga bahwa di depanku, seorang aparat desa terbata bata ditentang mataku. Aku senang dan menikmati pemandangan ini, sebuah panorama dari fragmen kemenangan.   Sekian  hari   aku   dirundung ketakutan,    maka    inilah    saatnya    untuk mendendangkan kegembiraan.

"Sampeyan takut mengatakannya, pak Modin?"

"Ah! bagaimana ya?"

"Yah, kalau takut, lebih baik diam dan segera pulang. Lebih baik lagi kalau besok pagi mengundurkan diri dari jabatan modin."

"Tak ada yang berhak memberhentikannya! Akulah satu satunya orang yang berhak atasnya, juga atas nasibmu, nasib kalian!" seru sebuah suara dari arah jalan gelap. Suara itu seakan meluncur tanpa komando, tanpa tarikan nafas. Suara itu turun dari sebuah tempat yang pengap, dipenuhi udara amarah dan nafsu. Aku mengenal suara itu seperti aku mengenali kuburan para lelaki di antara deretan nisan yang lain, suara dari nurani yang membangkai.

Di belakangnya, pak Carik, kepala keamanan dan sebaris hansip bersiaga. Di depan sekali, di balik peci miringnya, sepasang mata culas berkilat

kilat sedang berjalan. Itulah dia pak Lurah kami,  Dolimin bin Kaslan, doktorandus. Ada yang bilang, pak Lurah mendapat gelar dari Universitas

Terbuka yang tak pernah kupahami, entah yang terbuka atau yang terlutup. Maklumlah sekolahku hanya sampai kelas II SMP. Aku hanya merasa bangga bahwa segenap aparat desa berkenan ke rumah kami, gubug kami yang jelek ini. Ada apa? Seakan pak Lurah tahu apa yang terpikir dalam benakku.

"Jangan merasa bangga bahwa kami semua datang ke sini. Ini semua semata mata karena kami memperhatikan setiap warga desa dan keamanannya. Tadi sore, limabelas orang mengadu ke kantor balai desa bahwa kehadiranmu mengganggu ketenteraman rumah tangga mereka. Sebab itu aku sarankan agar kau kermbali saja ke Surabaya. Bukankah di sana kau lebih bebas dengan pekerjaanmu."

"Saya tidak mengerti apa maksud pak Lurah. Di sini saya lahir dan dibesarkan, di sini pula kelua.rga kami bertempat tinggal. Tanah yang saya

pijak dan rumah ..."

"Cukup! Tak perlu keterangan bertele tele. Ini demi keamananmu. Seluruh warga desa ini sudah tahu bahwa kau hanya seorang pelacur. Pekerjaanmu membuat puluhan keluarga tak tentram. Sebaiknya kau tinggalkan desa ini dan kembali ke kota. Di sanalah tempat. Jangan kau kotori desa ini dengan ulahmu."

"Ulah saya?"

"Cukup kataku!"

"Kata pak Lurah cukup, kata saya - tidak".

"Apa? Kau pelacur! Berani membantah apa  kataku?"

Keberanian tiba-tiba meluncur ke satu titik, menyesaki dadaku dengan rasa bangga yang aneh dan tak dapat kumengerti dari mana datangnya.

"Apa itu berani membantah?" tanyaku melecehkan, "saya hanya meluruskan omongan pak Lurah".

"Lancang! Dasar pelacur!" "Benar. Saya memang pelacur. Kenapa?" "Menjijikkan! Kau perempuan terkutuk! tak tahu malu".

. "Menjijikkan? terkutuk? benarkah? Kalian dengar semua? Saya menjijikkan dan terkutuk. Benarkah begitu ?

Semua lelaki yang berdiri di belakang pak lurah diam terpana.  Kesenyapan malam ini bagai suara hantu yang mengendap rnenginta'i mangsa. Sepuluh tarikan nafas kemudian..,..

"Kau mempermainkan kami, anak haram!" bentak pak lurah, jauh di luar perhitungan.

Puih! Cuh! pak Lurah gelagapan dan tak sempat menghindar ketika air kebencian dari mulutku meluncur ke wajahnya. Berkali kali membasahi mata liarnya, mulut buaya dan surban kebanggaan, di mana segala kotoran dan kemunafikan bersembunyi di baliknya. Pak Lurah kami yang doktorandus dan haji; berkejap liar dalam kebodohan yang menggelikan. Aku tergelak-gelak dalam pengertian yang sederhana.

Malam pun tertawa, bersama jangkrik jangkrik yang kegelian di lobangnya.[]

Read more from the August 2015 issue
Like what you read? Help WWB bring you the best new writing from around the world.